'Penghuni' Tolak Penutupan Loa Hui
Minta Pemkot Tinjau Ulang Kebijakan Tersebut

Penghuni Lokalisasi Loa Hui meminta Pemkot Samarinda untuk meninjau ulang kebijakan penutupan yang diwacanakan. Penghuni menilai lokalisasi tersebut masih berjauhan dengan pemukiman warga dan tidak mengganggu.
Penghuni Lokalisasi Loa Hui meminta Pemkot Samarinda untuk meninjau ulang kebijakan penutupan yang diwacanakan. Penghuni menilai lokalisasi tersebut masih berjauhan dengan pemukiman warga dan tidak mengganggu.
Photo: Hafidz/mySAMARINDA

mySAMARINDA.com - 24/03/2014 20:12 WITA
Penghuni di Lokalisasi Suka Damai Loa Hui di RT 23 Kelurahan Harapan Baru, Loa Janan Ilir menolak jika lokalisasi prostitusi yang berdiri sejak Januari 1991 itu ditutup Pemkot. Pasalnya, alasan penutupan lokalisasi karena berdekatan dengan perkampungan warga bukanlah alasan yang benar.


Salah satu penghuni yang ditemui MySamarinda, dua hari lalu, Leni Astari mengungkapkan, pada lokalisasi tersebut ada sekitar 250 Wanita Tuna Susila (WTS). Menurutnya, letak dari lokalisasi tersebut sama sekali tak berdekatan dengan pemukiman warga. Ia juga meminta agar pemkot dapat melihat langsung kondisi yang sebenarnya dilapangan.


"Jika alasananya dekat pemukiman, itu tak benar. Karena letak lokalisasi sangat terpencil. Bahkan, letak pondok pesantren berjarak 500 meter dari lokalisasi. Kami juga tak mengganggu, apalagi kiri dan kanan hanya gunung, tak ada pemukiman warga," ucap Leni asal Jawa Timur dan mencari nafkah selama 15 tahun di lokalisasi tersebut.


Hal senada diungkapkan Rita, penghuni lokalisasi berusia 22 tahun itu meminta Pemkot mengkaji secara khusus rencana tersebut. Pasalnya, berbagai laporan diterima harus disesuaikan kondisi lapangan. Karena, komunikasi antara penghuni lokalisasi dengan warga tak terjadi masalah.


"Kami ingin pemerintah meninjau lokalisasi untuk memastikan, apakah jaraknya berdekatan dengan perkampungan warga. Sehingga tak sekedar membuat keputusan menutup lokalisasi sebelum dilakukan peninjauan," tambah Rita, penghuni asal Jawa Barat ini.


Sementara itu, Koordinator Lokalisasi Syamsul Bahri menambahkan 250 WTS tersebar di 43 wisma adalah pendatang asal Jawa Timur dan Jawa Barat. Keberadaan mereka mencari nafkah sebagai WTS karena kesulitan ekonomi. Bahkan, hasil dari pekerjaannya itu mampu menghidupi keluarga mereka di Jawa.


"Hal ini harus menjadi perhatian Pemkot, jangan sampai penutupan lokalisasi dianggap sebagai solusi, namun berdampak terjadinya gejolak sosial yang lebih parah di masyarakat," tambah Syamsul. (ibn)

 

 

 
Berita Lainnya
Politik & Peristiwa   Pemerintahan   Ekonomi & Bisnis   Nasional
Gegara Kritik Banjir via SMS: Walikota Laporkan Warganya ke Polisi
Demi Hadapi Masyarakat Ekonomi Asean: Satpam di Samarinda Harus Bisa Berbahasa Inggris
 
Soal Pembangunan di Kaltim: Samarinda Optimis Bakal Terdepan
Kabut Asap Makin Pekat dan Berbahaya: Waspada! Kualitas Udara di Samarinda Tidak Sehat
 
Pepper Lunch Hadir di Bigmall: Rasa Nan Aduhay, Warga Samarinda Wajib Coba
Rambah Ibukota Kalimantan Timur
Pepper Lunch Hadir di Big Mall Samarinda
 
Kalahkan Thailand, Dorna Tunjuk Indonesia: Wauw! MotoGP 2017 Digelar di Sirkuit Sentul
'Selamat Datang, Ibu Presiden Megawati': Aduh! Di Korsel, Presiden RI Bukan Jokowi
             
Hiburan   Olahraga   Seni Budaya   Internasional
Pesta Rakyat Terpopuler di Samarinda: Inilah Daftar Kegiatan Festival Mahakam 2015
Undas Singing Contest: Ajang Pembuktian Talenta Terbaik Kota Samarinda
 
Clean Sheet Dua Laga: Kiper PBFC Ajak Fokus dan Rendah Hati
PSM 0-2 PBFC: Bukan Jago Kandang!
 
Jadi Wahana Perekat Keharmonisan Kota Samarinda: Jambore Cabang Kwarcab Samarinda Digelar di KRUS
Peringatan Hari Koperasi ke-68 di GOR Segiri Samarinda: Kualitas Pengurus Koperasi di Kaltim Harus Ditingkatkan
 
Crane Raksasa Jatuh di Mekkah: Puluhan Orang Tewas dan Ratusan Luka-Luka
Gerakan Kemerdekaan Picu Situasi Tambah Panas: Umat Muslim di Xinjiang China Dilarang Berpuasa
Copyright © 2013-2018 MySamarinda.com. All rights reserved