UU Minerba No. 4 Tahun 2009 Akan Berdampak Besar
PHK Massal Hantui Samarinda

Larangan ekspor mentah bagi pengusaha batubara akan berdampak besar terhadap geliat pertambangan emas hitam di Samarinda.
Larangan ekspor mentah bagi pengusaha batubara akan berdampak besar terhadap geliat pertambangan emas hitam di Samarinda.
Photo: Ist

mySAMARINDA.com - 30/12/2013 16:29 WITA
Larangan ekspor batubara mentah mulai Januari 2014 oleh pemerintah berdasarkan UU 4/2009 tentang Mineral dan Batubara (Minerba), dikhawatirkan akan berdampak terhadap PHK massal perusahaan batubara di ibukota Kalimantan Timur, Samarinda.


Hal itu diungkapkan Sekretaris Asosiasi Pengusaha Batubara Samarinda (APBS) Umar Vaturusi. Menurutnya perusahaan jelas akan merasakan dampak terhadap kebijakan tersebut. Apalagi jika pemerintah tidak memiliki solusi terhadap dampak dari UU tersebut, PHK secara besar-besaran mungkin saja terjadi.


"Banyak pengusaha yang ingin pemerintah untuk menunda penerapan UU itu, karena dampak UU Minerba ini bagi perusahaan kecil sangat terasa sekali. Apalagi di Samarinda, pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) rata-rata masih berskala kecil," kata Umar.


Sebelumnya, Pemerintah berdasar UU Mineral dan Batu Bara (Minerba) No. 4 Tahun 2009, perusahaan tambang dilarang mengekspor hasil pertambangan mentah mereka terhitung muali 12 januari 2014. Tujuan larangan tersebut, karena jika bahan mentah bisa diolah di dalam negeri dan diekspor dalam bentuk barang jadi nilainya akan lebih tinggi.


Namun, aturan itu banyak ditentang perusahaan tambang. Padahal sejak 2009 himbauan ini sudah dicanangkan. Namun, lima tahun berjalan, hanya sedikit perusahaan yang sanggup membangun pabrik smelter (pemurnian). Akibatnya, ketika batas waktu mulai habis, banyak perusahaan belum siap dan meminta kembali perpanjangan waktu.


Disisi lain, jika ekspor batubara harus dimurnikan, pengusaha harus siapkan modal yang tidak sedikit. Pasalnya, untuk membangun pabrik pengolahan dan pemurnian batubara dari mentah menjadi barang jadi harus memiliki mesin berteknologi.


"Di Samarinda contohnya, pengusaha hanya menambang batubara yang memiliki kalori rendah. Karena batubara berkalori rendah untuk diekspor pun juga tidak akan laku. Apalagi dua tahun terakhir ada produsen batubara dari negara lain, ekspor dan produksi melemah," pungkas Umar. (Rid)

 

 

 
Berita Lainnya
Politik & Peristiwa   Pemerintahan   Ekonomi & Bisnis   Nasional
Gegara Kritik Banjir via SMS: Walikota Laporkan Warganya ke Polisi
Demi Hadapi Masyarakat Ekonomi Asean: Satpam di Samarinda Harus Bisa Berbahasa Inggris
 
Soal Pembangunan di Kaltim: Samarinda Optimis Bakal Terdepan
Kabut Asap Makin Pekat dan Berbahaya: Waspada! Kualitas Udara di Samarinda Tidak Sehat
 
Pepper Lunch Hadir di Bigmall: Rasa Nan Aduhay, Warga Samarinda Wajib Coba
Rambah Ibukota Kalimantan Timur
Pepper Lunch Hadir di Big Mall Samarinda
 
Kalahkan Thailand, Dorna Tunjuk Indonesia: Wauw! MotoGP 2017 Digelar di Sirkuit Sentul
'Selamat Datang, Ibu Presiden Megawati': Aduh! Di Korsel, Presiden RI Bukan Jokowi
             
Hiburan   Olahraga   Seni Budaya   Internasional
Pesta Rakyat Terpopuler di Samarinda: Inilah Daftar Kegiatan Festival Mahakam 2015
Undas Singing Contest: Ajang Pembuktian Talenta Terbaik Kota Samarinda
 
Clean Sheet Dua Laga: Kiper PBFC Ajak Fokus dan Rendah Hati
PSM 0-2 PBFC: Bukan Jago Kandang!
 
Jadi Wahana Perekat Keharmonisan Kota Samarinda: Jambore Cabang Kwarcab Samarinda Digelar di KRUS
Peringatan Hari Koperasi ke-68 di GOR Segiri Samarinda: Kualitas Pengurus Koperasi di Kaltim Harus Ditingkatkan
 
Crane Raksasa Jatuh di Mekkah: Puluhan Orang Tewas dan Ratusan Luka-Luka
Gerakan Kemerdekaan Picu Situasi Tambah Panas: Umat Muslim di Xinjiang China Dilarang Berpuasa
Copyright © 2013-2018 MySamarinda.com. All rights reserved