Bisa Jadi Objek Wisata Kelas Dunia
Fosil Ulin Raksasa di Loa Janan Bikin Gempar


Salah satu detail pohon ulin raksana yang kini telah berubah menjadi fosil.Salah satu detail pohon ulin raksana yang kini telah berubah menjadi fosil.
Photo: IAGI Kaltim


Tim dari IAGI Kaltim dan Balai Pelestarian Cagar Budaya berpendapat fosil ulin Loa Janan tidak perlu dipindah.
Tim dari IAGI Kaltim dan Balai Pelestarian Cagar Budaya berpendapat fosil ulin Loa Janan tidak perlu dipindah.
Photo: IAGI Kaltim

mySAMARINDA.com - 25/06/2015 20:07 WITA
Fenomena demam batu akik yang merebak di seluruh Tanah Air belakangan ini, membuat temuan fosil pohon ulin (Eusideroxylon zwageri) berusia jutaan tahun di kawasan desa Purwajaya, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), berhasil menyita perhatian masyarakat luas.


Padahal, fosil ulin ini sebenarnya sudah cukup lama ditemukan sejak tahun 2001 silam oleh si pemilik lahan bernama Gandi. Namun kala itu temuan fosil pohon ulin tersebut masih dianggap biasa-biasa saja.


Kini setelah trend peminat batu akik meningkat, temuan fosil ulin di Loa Janan ini sontak menjadi buah bibir. Pasalnya, fosil ulin merupakan salah satu batu akik yang banyak diburu para kolektor.


Informasi temuan fosil ulin raksasa yang panjangnya mencapai 25,8 meter ini juga sampai di telinga para pejabat daerah. Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) H Awang Faroek Ishak bahkan tertarik untuk memindahkan fosil ulin tersebut ke Samarinda agar dapat dijadikan monumen yang dibangun di kawasan tepian sungai Mahakam.


Akan tetapi, gagasan sang Gubernur ditentang keras Ketua DPRD Kukar Salehuddin SSos SFil. Menurut politisi Partai Golkar ini, fosil ulin tersebut tidak seharusnya dipindahkan ke Samarinda. Salehuddin pun mengusulkan agar fosil ulin ini dipindah ke Tenggarong, tepatnya di kompleks Museum Kayu.


"Karena ditemukan di wilayah Kukar, sudah seharusnya fosil ulin ini tetap berada di Kukar. Apalagi kita punya Museum Kayu di Tenggarong yang bisa dijadikan tempat untuk memamerkan fosil tersebut," ujar Salehuddin.


Anggota tim ketika mengidentifikasi fosil ulin di desa Purwajaya, Loa Janan.
Anggota tim ketika mengidentifikasi fosil ulin di desa Purwajaya, Loa Janan.
Photo: IAGI Kaltim

Namun gagasan pemindahan fosil ulin tersebut, entah ke Samarinda ataupun Tenggarong, tak mendapat sambutan positif dari kalangan ahli purbakala maupun ahli geologi. Mereka berpendapat fosil ulin tersebut harus tetap berada di tempat asalnya semula dikarenakan bisa jadi fosil tersebut termasuk benda cagar budaya jika ada kaitan dengan aktivitas manusia di masa lalu.


Selain itu, lokasi temuan fosil ulin ini juga bisa dikembangkan sebagai kawasan obyek wisata baru di Kaltim. "Lokasi temuan fosil ulin ini berpeluang menjadi obyek wisata kelas dunia. Dengan catatan, fosil tersebut harus tetap berada pada tempatnya dan dilakukan penataan kawasan sehingga lokasi tersebut menjadi tempat tujuan wisata," ujar Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Kaltim, Fajar Alam.


Fajar pun merujuk negeri Gajah Putih, Thailand, yang memiliki obyek wisata fosil pohon berukuran panjang 20 meter dan diameter 2 meter di Amphoe Ban Tak. "Berdasarkan catatan saat itu merupakan spesimen terbesar di Asia dan nomor dua di dunia. Sedangkan fosil kayu di desa Purwajaya, ukurannya melebihi fosil di Thailand tersebut," imbuhnya.


Menurutnya, kawasan temuan fosil ulin di Loa Janan ini bisa dijadikan sebagai kawasan obyek wisata terpadu. "Dan di lokasi fosil tersebut, harus ada papan informasi yg menjelaskan keberadaan fosil, tinjauan lingkungan tempatnya dulu terendap, penjelasan tentang genetika si pohon ketika hidupnya, dan hal lain yg dianggap relevan untuk dipasang di sana," katanya.


Ditambahkan Fajar, pihaknya bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya Wilayah Kalimantan telah melakukan pengukuran serta penelitian terhadap fosil ulin tersebut. "Fosil ini berukuran panjang 25,8 meter, dengan diameter bawah mencapai 0,95 meter dan diameter atas mencapai 0,67 meter. Sedangkan usianya bila seumuran dengan batu pasir yang menutupinya diperkirakan sekitar 12 juta hingga 5 juta tahun lalu. Sangat tua jika dibandingkan usia manusia," pungkasnya. (Agri/KK)


Tim gabungan dari IAGI Kaltim dan Balai Pelestarian Budaya Wilayah Kalimantan saat melakukan pengukuran dan penelitian fosil pohon ulin di Loa Janan
Photo: IAGI Kaltim

 

 

 
Berita Lainnya
Politik & Peristiwa   Pemerintahan   Ekonomi & Bisnis   Nasional
Gegara Kritik Banjir via SMS: Walikota Laporkan Warganya ke Polisi
Demi Hadapi Masyarakat Ekonomi Asean: Satpam di Samarinda Harus Bisa Berbahasa Inggris
 
Soal Pembangunan di Kaltim: Samarinda Optimis Bakal Terdepan
Kabut Asap Makin Pekat dan Berbahaya: Waspada! Kualitas Udara di Samarinda Tidak Sehat
 
Pepper Lunch Hadir di Bigmall: Rasa Nan Aduhay, Warga Samarinda Wajib Coba
Rambah Ibukota Kalimantan Timur
Pepper Lunch Hadir di Big Mall Samarinda
 
Kalahkan Thailand, Dorna Tunjuk Indonesia: Wauw! MotoGP 2017 Digelar di Sirkuit Sentul
'Selamat Datang, Ibu Presiden Megawati': Aduh! Di Korsel, Presiden RI Bukan Jokowi
             
Hiburan   Olahraga   Seni Budaya   Internasional
Pesta Rakyat Terpopuler di Samarinda: Inilah Daftar Kegiatan Festival Mahakam 2015
Undas Singing Contest: Ajang Pembuktian Talenta Terbaik Kota Samarinda
 
Clean Sheet Dua Laga: Kiper PBFC Ajak Fokus dan Rendah Hati
PSM 0-2 PBFC: Bukan Jago Kandang!
 
Jadi Wahana Perekat Keharmonisan Kota Samarinda: Jambore Cabang Kwarcab Samarinda Digelar di KRUS
Peringatan Hari Koperasi ke-68 di GOR Segiri Samarinda: Kualitas Pengurus Koperasi di Kaltim Harus Ditingkatkan
 
Crane Raksasa Jatuh di Mekkah: Puluhan Orang Tewas dan Ratusan Luka-Luka
Gerakan Kemerdekaan Picu Situasi Tambah Panas: Umat Muslim di Xinjiang China Dilarang Berpuasa
Copyright © 2013-2018 MySamarinda.com. All rights reserved