Diduga Hasil Transaksional Politik
Pasangan Calon 'Boneka' Hantui Pilwali Samarinda

Mudiyat Noor dan Iswandi saat mendaftar ke KPU Samarinda. Pasangan ini dianggap 'bonek' oleh sebagian pihak.
Mudiyat Noor dan Iswandi saat mendaftar ke KPU Samarinda. Pasangan ini dianggap 'bonek' oleh sebagian pihak.
Photo: Kape/Fachrizal

mySAMARINDA.com - 13/08/2015 06:49 WITA
Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Samarinda kini sudah bisa berlanjut dengan kepastian adanya penantang pasangan Syaharie Jaang dan Nusyirwan Ismail (JaaNur). Tetapi ada anggapan kalau pasangan Mudyat Noor dan Iswandi ini merupakan hasil transaksional politik.


Muncul tiba-tiba sebagai pasangan calon, Mudiyat Noor-Iswandi juga dianggap sebagai pasangan yang hanya sekedar mengikuti Pilwali Samarinda saja. Tentu mereka dianggap sebagai pasangan yang menyelamatkan JaaNur agar bisa bertarung di Pilwali tahun ini. Pasalnya, jika tak ada lawan JaaNur, dipastikan Pilwali Samarinda bisa tertunda dan tentu menguras amunisi politik.


Perihal hal tersebut, Jauhar Akademisi Universitas Mulwarman (Unmul) memberikan analisisnya. Diterangkannya komunikasi politik yang terbangun antara PDIP dan Hanura ini adalah bentuk pembelajaran politik. Menarik, PDIP sebagai pemenang pemilu dengan mudahnya memberikan kursi calon wali kota kepada partai yang lebih kecil.


"Pertanyaan lainnya, siapa sih Mudyat dan Iswandi ini? Apa dikenal masyarakat Samarinda, saya rasa tidak semua," Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Unmul ini.


Jauhar menambahkan, komunikasi politik yang terjadi pun seperti tergesa-gesa dan tak matang, pasalnya yang dimunculkan bukan figur terbaik. Sehingga ia menyebutkan dugaan transaksi politik dengan bargaining tertentu bisa dilakukan oleh pihak yang berkepentingan, khususnya Jaang.


"Benarkah komunikasi politik bisa terjadi selama tiga hari begitu saja. Walaupun PDIP dan Jaang tak cukup dekat, tetapi bisa saja masuk lewat pintu tertentu. Jadi tidak langsung Jaang yang melakukan," ungkapnya.


Dari semua uraiannya, pengajar Program Studi Ilmu Pemerintahan ini tetap menyatakan bahwa fenomena ini merupakan realitas politik yang terjadi. Dimana kekuatan elektabilitas petahana yang hampir tak tertandingi justru membuat proses politik tak ubahnya seperti berdagang. "Masyarakat Samarinda sekarang semuanya bisa apa. Dalam politik ini tetap sah dan tak bisa dipungkiri," pungkasnya. (IBM)

 

 

 
Berita Lainnya
Politik & Peristiwa   Pemerintahan   Ekonomi & Bisnis   Nasional
Gegara Kritik Banjir via SMS: Walikota Laporkan Warganya ke Polisi
Demi Hadapi Masyarakat Ekonomi Asean: Satpam di Samarinda Harus Bisa Berbahasa Inggris
 
Soal Pembangunan di Kaltim: Samarinda Optimis Bakal Terdepan
Kabut Asap Makin Pekat dan Berbahaya: Waspada! Kualitas Udara di Samarinda Tidak Sehat
 
Pepper Lunch Hadir di Bigmall: Rasa Nan Aduhay, Warga Samarinda Wajib Coba
Rambah Ibukota Kalimantan Timur
Pepper Lunch Hadir di Big Mall Samarinda
 
Kalahkan Thailand, Dorna Tunjuk Indonesia: Wauw! MotoGP 2017 Digelar di Sirkuit Sentul
'Selamat Datang, Ibu Presiden Megawati': Aduh! Di Korsel, Presiden RI Bukan Jokowi
             
Hiburan   Olahraga   Seni Budaya   Internasional
Pesta Rakyat Terpopuler di Samarinda: Inilah Daftar Kegiatan Festival Mahakam 2015
Undas Singing Contest: Ajang Pembuktian Talenta Terbaik Kota Samarinda
 
Clean Sheet Dua Laga: Kiper PBFC Ajak Fokus dan Rendah Hati
PSM 0-2 PBFC: Bukan Jago Kandang!
 
Jadi Wahana Perekat Keharmonisan Kota Samarinda: Jambore Cabang Kwarcab Samarinda Digelar di KRUS
Peringatan Hari Koperasi ke-68 di GOR Segiri Samarinda: Kualitas Pengurus Koperasi di Kaltim Harus Ditingkatkan
 
Crane Raksasa Jatuh di Mekkah: Puluhan Orang Tewas dan Ratusan Luka-Luka
Gerakan Kemerdekaan Picu Situasi Tambah Panas: Umat Muslim di Xinjiang China Dilarang Berpuasa
Copyright © 2013-2018 MySamarinda.com. All rights reserved