Dorong UMKM Pantenkan Produk
Donna Faroek Raih Penghargaan dari IWAPI

Perbedaan gender yang kerap menjadi tembok penghalang kini telah tumbang. Perempuan bisa sejajar dengan pria. Dayang Donna Faroek ikut membuktikannya.
Perbedaan gender yang kerap menjadi tembok penghalang kini telah tumbang. Perempuan bisa sejajar dengan pria. Dayang Donna Faroek ikut membuktikannya.
Photo: Dok. Donna Center

mySAMARINDA.com - 22/09/2015 03:28 WITA
Dewan Pengurus Pusat (DPP) Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) VIII. Dihadiri 1.500 pengusaha perempuan dari seluruh Indonesia, termasuk Dayang Donna Faroek yang saat ini menakhodai Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kaltim.


Munas bertajuk Pemberdayaan Ekonomi Perempuan UKM sebagai Investasi Strategis dan Penggerak Perekonomian Indonesia. Diadakan di Discovery Hotel & Convention Ancol, Jakarta Utara, 16-18 September 2015. Perhelatan dibuka Menteri Perindustrian Saleh Husein.


Turut hadir, Menteri Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, dan Ketua Dewan Kehormatan Iwapi Dewi Motik.


Dalam kesempatan itu, DPP Iwapi memberikan penghargaan kepada beberapa pengusaha perempuan berprestasi. Donna Faroek terpilih menjadi satu dari tiga pengusaha perempuan Kaltim.


DPP Iwapi menilai tiga perempuan yang diberi penghargaan berdasarkan penilaian kepemimpinan, kepedulian, dan prestasi. Selain dikenal memimpin KNPI Kaltim, Dona Foroek juga ketua Forum CSR Kesejahteraan Sosial. Setelah pemberian penghargaan Munas VIII, Iwapi merancang strategi dan program kerja lima tahun.


Perbedaan gender yang kerap menjadi tembok penghalang kini telah tumbang. Perempuan bisa sejajar dengan pria. Dayang Donna Faroek ikut membuktikannya. Donna memilih ke Jakarta daripada ikut menemani orangtuanya (Awang Faroek dan Entjek Amelia) berkunjung ke Rusia. Donna didapuk menerima penghargaan dari DPP Iwapi. "Saya tidak ikut (ke Rusia). Ini demi kehormatan bisa mewakili Kaltim menerima penghargaan dari Iwapi," ungkap Donna.


Dia mengatakan, dalam munas tersebut, Iwapi mengevaluasi program kerja lima tahun terakhir. Pengurus juga merancang strategi dan program kerja lima tahun ke depan. Penyempurnaan AD/ART menjadi bahasan dalam musyawarah. "Peningkatan pelaku usaha mikro di Indonesia yang didominasi pengusaha perempuan tak lepas dari pembahasan," ucap Donna.


Menurutnya, saat ini pengusaha perempuan sebagian bergerak di bidang kuliner, garmen, fashion, handicraft, kosmetik, spa, property, dan sebagainya. Yang menarik, lanjut dia, tak terasa penerapan kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tinggal hitungan bulan, yakni Desember tahun ini. Pengusaha perempuan harus mampu bersaing dengan pengusaha perempuan asing. "Perempuan juga harus bisa bersaing," sebutnya.


"Berbagai cara bisa dilakukan salah satunya mematenkan produk. Mayoritas UMKM di Tanah Air, termasuk Kaltim, belum melakukan itu. Padahal penting," tambahnya.


Menurut dia, hak eksklusif dari negara sangat dibutuhkan sebagai upaya proteksi dan memiliki nilai tambah dibanding produk asing. Patenisasi produk adalah instrumen yang penting untuk menjaga daya saing menyambut MEA 2015.


Dia memisalkan, buah tangan khas Kaltim seperti amplang hingga sekarang belum ada yang mematenkan. Jangan sampai negara lain melihat produk asal Kaltim, diklaim lantas dipatenkan.


Tahap selanjutnya, lanjut dia, bila produk sudah diklaim negara lain, pencipta produk akan mengeluh. Biasanya, yang disesalkan adalah lemahnya penegakan hukum apabila terjadi sengketa klaim kepemilikan hak cipta produk.


"Yang menciptakan atau menemukan produk tak boleh marah sebab dia sudah tak memiliki hak paten untuk menciptakan. Kecuali membayar lebih dulu kepada seseorang yang memiliki hak paten," terangnya.


Dia mengatakan, bila sektor UMKM tak didorong mematenkan produk, menjadi ancaman serius bagi UMKM Indonesia. Sektor inilah yang kerap menghasilkan produk baru dan inovatif.


Kesadaran membuat hak cipta produk yang dipatenkan masih sangat lemah. Banyak pengrajin atau pencipta hanya bisa merancang, membuat, dan menjual produk tapi mengesampingkan hak cipta. "Harus ada keterlibatan pemerintah untuk masalah seperti ini," sarannya. (adv/*)

 

 

 
Berita Lainnya
Politik & Peristiwa   Pemerintahan   Ekonomi & Bisnis   Nasional
Gegara Kritik Banjir via SMS: Walikota Laporkan Warganya ke Polisi
Demi Hadapi Masyarakat Ekonomi Asean: Satpam di Samarinda Harus Bisa Berbahasa Inggris
 
Soal Pembangunan di Kaltim: Samarinda Optimis Bakal Terdepan
Kabut Asap Makin Pekat dan Berbahaya: Waspada! Kualitas Udara di Samarinda Tidak Sehat
 
Pepper Lunch Hadir di Bigmall: Rasa Nan Aduhay, Warga Samarinda Wajib Coba
Rambah Ibukota Kalimantan Timur
Pepper Lunch Hadir di Big Mall Samarinda
 
Kalahkan Thailand, Dorna Tunjuk Indonesia: Wauw! MotoGP 2017 Digelar di Sirkuit Sentul
'Selamat Datang, Ibu Presiden Megawati': Aduh! Di Korsel, Presiden RI Bukan Jokowi
             
Hiburan   Olahraga   Seni Budaya   Internasional
Pesta Rakyat Terpopuler di Samarinda: Inilah Daftar Kegiatan Festival Mahakam 2015
Undas Singing Contest: Ajang Pembuktian Talenta Terbaik Kota Samarinda
 
Clean Sheet Dua Laga: Kiper PBFC Ajak Fokus dan Rendah Hati
PSM 0-2 PBFC: Bukan Jago Kandang!
 
Jadi Wahana Perekat Keharmonisan Kota Samarinda: Jambore Cabang Kwarcab Samarinda Digelar di KRUS
Peringatan Hari Koperasi ke-68 di GOR Segiri Samarinda: Kualitas Pengurus Koperasi di Kaltim Harus Ditingkatkan
 
Crane Raksasa Jatuh di Mekkah: Puluhan Orang Tewas dan Ratusan Luka-Luka
Gerakan Kemerdekaan Picu Situasi Tambah Panas: Umat Muslim di Xinjiang China Dilarang Berpuasa
Copyright © 2013-2018 MySamarinda.com. All rights reserved